Posted by & filed under Berita Terkini.

DUNIA penelitian di negeri ini masih menyisakan pertanyaan dan
harapan. Riset sebagai laku intelektual belum dipahami secara utuh untuk
mendekati permasalahan.

Perangkat riset yang dimiliki oleh
dosen dan peneliti di kampus terkadang hanya menjadi lambaran untuk
menuntaskan hasrat akademik dan mengejar poin karier.

Riset
belum menjadi bagian integral dalam dunia intelektual Indonesia.
Berbagai universitas masih tergopoh-gopoh untuk menyesuaikan diri
sebagai kampus riset.

Keterbatasan sumber daya manusia,
lemahnya struktur akademik dan miskinnya kepekaan terhadap lingkungan
sekitar kampus, menjadi batu sandungan untuk mengejar predikat sebagai
universitas riset.
Perguruan tinggi dengan legitimasi keilmuan dan
citra bonafid telah beramai-ramai mencanangkan diri sebagai pusat riset.

Hasil kerja olah data dan imajinasi peneliti merupakan
sumbangan untuk menaikkan strata universitas dalam neraca peringkat
lembaga pendidikan internasional.

Kampus sebagai rumah
penelitian, merupakan pembuktian terhadap mahasiswa, masyarakat, dan
lingkungan sekitar, bahwa teori yang dikembangkan di ruang pembelajaran
universitas tak jauh dari realitas yang terjadi di lapangan.

Namun, target sebagai universitas riset terkadang tak sampai pada tujuan
mulia: mencerdaskan dosen, mahasiswa, dan lingkungan pada porsi yang
sesuai.

Dosen dan mahasiswa dapat bertukar pikiran untuk
melahirkan gagasan yang cemerlang. Ide kreatif tak selamanya
beranak-pinak pada alam pikiran dosen, namun juga berarak pada awan
imajinasi mahasiswa.

Bila tak ada egoisme status, kampus akan
menjadi bangunan besar dengan ide besar. Ketekunan untuk mengolah angka
dan kata pada ruang kreatif yang setara.

Keinginan untuk
menjadikan universitas sebagai rumah penelitian, menjadi fondasi penting
membangun masa depan pendidikan dan manusia Indonesia.

Universitas sejatinya patut menjadi salah satu rumah untuk belajar
tentang seni memaknai kehidupan. Rumah inilah yang jadi rujukan
melakukan persinggahan wacana, debat akademik, merumuskan teori, menguji
hipotesis, dan mencari rumusan penyelesaian problem masyarakat.

Universitas tak hanya menjadi rumah dosen dan guru besar, ia sebenarnya
rumah yang nyaman bagi masyarakat luas.

Akan tetapi faktanya
sampai sekarang kampus masih dianggap sebagai bangunan angker bagi
sebagian masyarakat. Tarif mahal, penampilan dosen yang miskin senyum
dan tipikal peneliti yang tak peduli dengan masalah masyarakat,
menjadikan kampus semakin berjarak dengan realitas.

Universitas seakan semakin jauh dari peristiwa dan permasalahan di bumi.

Bangunan besar dan mewah, hanya dapat disinggahi oleh orang
berdasi dan berdandan necis, namun kering sapaan terhadap masyarakat
awam.

Kondisi menyedihkan ini jauh dari rencana persemaian
mahasiswa di universitas pada awal kemerdekaan, yang diimpikan oleh Bung
Hatta, dalam percik pikirannya tentang idealisasi Taman Siswa.

Dalam amanat Bung Hatta (1954.d, 124), Taman Siswa lahir bukan untuk
mendidik intelektualisme semata melainkan mendidik manusia pribadi yang
insyaf akan dirinya sebagai anggauta masyarakat.

Inilah yang
disebut Bung Hatta sebagai sikap non-cooperation (terhadap kolonial) dan
self-help, sebagai bagian identitas diri manusia Indonesia.

Prinsip dan sikap self-help, dilakukan dengan praktik
zelfbedruipingssysteem, hidup dari pendapatan sendiri yang sederhana.

Kemandirian lembaga pendidikan, bukan berarti menjadikan mahasiswa
sebagai sapi perah, atau melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga
untuk mencari keuntungan semata.

Miskinnya semangat untuk
mandiri tanpa kehilangan ruh akademik, yang dikritik oleh Sutan Takdir
Alisyahbana. Dalam Pembangunan Kebudayaan Indonesia (1981), STA
mengungkapkan,

Semangat bekerja dan belajar keras untuk
mengejar kemajuan belum membakar hati kita, sehingga pada dewasa ini
dalam segala lapisan kemajuan kita belumlah memuaskan, dari ekonomi
sampai keuangan, dari hukum sampai pendidikan, dari pertanian sampai
transportasiî.

Krisis identitas, minimnya etos kerja dan
rendahnya keinginan berprestasi menjadikan lembaga pendidikan dan subyek
di dalamnya terjebak dalam ruang stagnan.
Universitas Riset Untuk
itu, pemilik otoritas di lembaga pendidikan hendaknya merancang kembali
strategi agar kembali membumi, agar kampus tak lagi berjarak dengan
realitas. Hasrat menjadikan universitas sebagai pusat riset dapat
menjadi langkah pertama.

Universitas dapat membuka ruang luas
bagi peneliti untuk berkreasi. Hasil penelitian dapat dijadikan jangkar
dan fondasi mengembangkan produk untuk menjawab problem di masyarakat.

Ketika ruang berekspresi secara merdeka dibuka, peneliti akan
betah dan bangga menjadi bagian dari universitas. Kalau tidak, sama
halnya dengan membuka peluang hengkangnya peneliti untuk berkreasi di
luar negeri.

Menurut data Dikti, lebih dari 600 peneliti
berprestasi asal Indonesia yang memilih bekerja di universitas dan pusat
studi di luar negeri, karena mendapat jaminan akademik dan
kesejahteraan. Ini kasus yang harus segera diselesaikan, kalau tidak
ingin peneliti cerdas dari negeri ini hijrah ke luar negeri.

Universitas akan mempunyai kontribusi penting bagi kehidupan masyarakat,
apabila turut ambil bagian untuk menyelesaikan masalah. Bukan hanya
memberi kepenatan bagi publik.

Pembuktian universitas sebagai
lembaga pendidikan yang tak berjarak dengan masyarakat setidaknya akan
dibuktikan dengan efektifitas riset peneliti yang dengan misi
pemberdayaan, semisal metode participatory active reseach (PAR).

Hasil penelitian akan memberi sumbangsih ketika menganggap masyarakat
sebagai partner, bukan objek semata. (10)

— Munawir Aziz, esais
dan peneliti, lahir di Pati

 

Sumber : Suaramerdeka.com