Posted by & filed under Berita Terkini.

mipa.undip.ac.id. Universitas dianalogikan sebagai miniatur
negeri. Terdapat suatu proses politik di dalamnya, bagaimana mengatur sebuah
negara dengan baik dan benar. Sehingga politik kampus menjadi sarana pendewasaan
bagi mahasiswa untuk menentukan kepemimpinan yang “ideal”.


Dinamika perpolitikan
di lingkungan kampus selalu menarik untuk dijadikan bahan kajian. Konflik yang
muncul justru menjadi pusaran perhatian sehingga menjadi kontrol terhadap
sistem politik yang ada. Memang bukan menjadi suatu hal yang sekompleks seperti
halnya politik yang ada di negeri ini namun, setidaknya dapat dijadikan sebagai
miniatur bangsa Indonesia.  Politik sendiri sebenarnya merupakan struggle for power yang ketahanan kekuatannya dimanfaatkan
untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Meski demikian, politik kampus hanya “mampu” diterjemahkan
sebagai struggle for justice and welfare, yang berjalan simultan. Politik kampus
sendiri memiliki ujuan bukan semata-mata kekuasaan, namun sebagai sarana eksistensi
maupun aktualisasi dari mahasiswa.

 

Ada suatu hal yang mungkin
dianggap aneh sehingga menimbulkan pertanyaan oleh sebagian besar mahasiswa
ketika melihat di BEM sebagian pengurus putrinya berjilbab.
Atau mengapa mahasiswa-mahasiswi yang terlihat aktif
berorganisasi di tingkat fakultas maupun universitas itu-itu saja (BEM KM, BEM F, UKM, UPK, LPM,
HMJ dll).

 

Jika karena hal di atas menimbulkan sebuah kesimpulan “aneh”
maka dapat dipastikan banyak mahasiswa yang belum mengetahui atau
tidak peduli bahwa kampus juga digunakan sebagai tempat pengkaderan
organisasi-organisasi politik (parta politik.). Cakar-cakar politik juga menancap
di institusi pendidikan. Memang sangat tidak penting dan bisa dianggap tidak
ada efeknya bagi kalangan  mahasiswa yang
cenderung acuh tak acuh, mengingat mereka hanya mementingkan kelangsungan studi
di universitas.

Kalau kita menoleh
kembali pada sejarah perjalanan Republik Indonesia, maka kita akan melihat
peran penting dari perguruan tinggi dalam proses perebutan kekuasaan. Sebab
sebagai strata tinggi dalam jenjang pendidikan formal, perguruan tinggi
mempunyai dua basis strategis, ilmu pengetahuan dan kaum intelektual. Keduanya
merupakan substansi yang penting untuk menopang, dan bahkan melegitimasi sebuah
kekuasaan (power).”

 

Organisasi-organisasi
politik melalui underbow-nya
melancarkan berbagai strategi untuk menguasai pos-pos penting di kampus. Unit-unit
kegiatan mahasiswa merupakan pos penting yang di incar untuk dikuasai. Basis
unit kegiatan kemahasiswaan yang cukup vital untuk dikuasai antara lain UKM
maupun UPK yang bergerak dalam bidang keagamaan katakanlah rohis, bidang
pemerintahan mahasiswa BEM maupun HMJ serta UKM yang bergerak dalam bidang
keilmuan/penelitian. Disini, organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa dapat
memperoleh kader-kader berkualitas yang intelektualis dan religious untuk
menjadi sumber daya manusia pergerakan organisasi politik.

 

Universitas
merupakan lahan subur yang sangat penting untuk melakukan pengkaderan. Mengingat
mahasiswa merupakan golongan intelek yang cukup besar. Bukan hanya di tataran
mahasiswa saat ini tujuannya, tetapi juga ditataran mahasiswa yang lulus nanti.
Mahasiswa yang idealis setelah lulus, dapat menguasai pasar yang terdapat dalam
bidang yang menjadi tempat bekerjanya. Misalkan, bidang pendidikan di
sekolah-sekolah dan kampus, di instansi-instansi pemerintahan, media massa, keagamaan,
ataupun menjadi kader politik di partai politiknya. Dari saringan yang
dilakukan organisasi pergerakan tersebut dapat diperoleh kader ataupun hanya
simpatisan. Simpatisan sangat dibutuhkan untuk mendongkrak perolehan suara pada
pemilu nanti. Sementara kader, diperlukan untuk mendapatkan kader-kader baru
dan membuka pasar. Misalkan, kader guru agama dapat menguasai kegiatan
ekstrakulikuler keagamaan di sekolah (seperti rohis,) dan mencetak pelajar
menjadi kader-kader baru.

 

Sekali lagi dapat dipastikan bahwa kampus merupakan lahan
becek kaderisasi, melalui berbagai model seperti mentoring agama islam  dan
lain sebagainya.

 

Dapat
dipastikan mahasiswa pernah mendengar berbagai macam nama organisasi pergerakan
mahasiswa seperti PMII, LMND, KAMMI, GMNI, HMI, Gema Pembebasan, Pemuda
Pancasila. Nama-nama tersebut merupakan organisasi yang menjadi afiliasi dari
partai politik atau bahkan merupakan underbow-nya.
Dewasa ini, Organisasi-organisasi ini dapat bebas masuk kampus, seperti
memasang atribut (pamflet) kegiatannya di papan pengumuman kampus.

 

Pengalaman organisasi merupakan
keuntungan yang diperoleh bagi mahasiswa yang mengikutinya. Namun, mempunyai
pengetahuan yang baik terhadap organisasi yang diikuti adalah suatu hal yang
mutlak penting, supaya tidak pula terjebak dalam gerakan radikalisme seperti
yang belakangan ini marak terjadi (terosrisme/NII). Dan perlu diingat jika Anda
sebagai mahasiswa yang memilih terlibat aktif dalam organisasi-organisasi
pergerakan mahasiswa ini, terdapat poin plus-nya. Tetapi, kalau dikemudian hari
setelah mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi (eksternal kampus ini.) menjadi
salah satu yang prestasi belajarnya menurun dan harus di-Drop Out, karena
sering meninggalkan kuliah tentu cukup merugikan.