Posted by & filed under Sains dan Teknologi.

mipa.undip.ac.id. Walaupun para ilmuan telah mengetahui
berabad-abad kalau banyak bakteri menghasilkan hydrogen sulfide (H2S),
ia diduga hanya sebagai limbah beracun dari aktivitas seluler. Sekarang,
para peneliti dari NYU School of Medicine telah menemukan kalau H2S
pada kenyataannya berperan penting dalam melindungi bakteri dari
pengaruh sejumlah antibiotik.


Dalam studi yang dipimpin oleh  Evgeny Nudler, PhD, professor biokimia dari  NYU School of Medicine, para peneliti menemukan bukti kalau H2S
bertindak sebagai mekanisme pertahanan utama melawan tekanan oksidatif,
proses yang dilalui banyak antibiotic untuk membunuh bakteri.

 Informasi
ini memberikan landasan untuk mengembangkan teknik baru menekan
mekanisme pertahanan bakteri universal ini dan membuat bakteri lebih
rentan pada antibiotic pada dosis rendah. Ia juga menjadi jalan bagi
banyak pembalikan resistensi antibiotic pada pathogen manusia seperti   Staphylococcus, Pseudomonas, E. coli, dan banyak lagi.

Temuan studi ini diterbitkan secara online tanggal 17 November 2011 dalam jurnal  Science.

“Anehnya,
sedikit yang telah diketahui dari biokimia dan fisiologi H2S pada
bakteri biasa” kata Dr. Nudler. “Kami senang mengenai pengaruh potensial
dari penelitian ini dalam masalah resistensi mikroba yang terus
berkembang sekarang. Penemuan ini menyarankan pendekatan baru secara
konseptual, sebuah terapi yang mentarget pertahanan gas bakteri dan
karenanya meningkatkan efisiensi banyak antibiotic berbasis klinik.”

 Lebih
khusus lagi, studi ini menunjukkan kalau mekanisme terintegrasi
perlindungan termediasi H2S melawan tekanan oksidatif juga melindungi
terhadap antibiotika. Penelitian ini memberi dukungan langsung untuk
konsep tindakan pro-oksidatif yang muncul pada banyak antibiotic.

 Selain
itu, studi ini menunjukkan kalau bakteri yang membangkitkan H2S dan
nitric oksida (NO) serentak, seperti   B. anthracis (penyebab antraks),
tidak dapat bertahan tanpa kedua gas tersebut, bahkan dalam kondisi
pertumbuhan normal. Satu gas menyusun kekurangan yang lain dan
setidaknya salah satunya mendasar bagi mereka.

 Dalam
studi sebelumnya, Dr. Nudler dan koleganya menunjukkan kalau NO
berperan sama dalam melindungi bakteri dari antibiotic (Science, 9
September 2009). Walau begitu, karena NO ada hanya dalam sejumlah kecil
bakteri sementara sintesis hydrogen sulfide terjadi pada dasarnya dalam
semua bakteri, implikasi praktis penemuan baru ini sangat luas.

Sumber berita:

 NYU Langone Medical Center / New York University School of Medicine.

Referensi jurnal :

K. Shatalin, E. Shatalina, A. Mironov, E. Nudler. H2S: A Universal Defense Against Antibiotics in Bacteria. Science, 2011; 334 (6058): 986 DOI: 10.1126/science.1209855