Posted by & filed under Sains dan Teknologi.

SEMARANG, suaramerdeka.com -Agus Subagio (41 tahun), Pembantu Dekan I Fakultas Sains dan Matematika (FSM), Undip, tengah mengembangkan alat yang berguna bagi masyarakat. Yakni alat untuk mendegradasi limbah, mengembangkan rompi antipeluru yang ringan namun kuat, serta mengembangkan teknologi desalinasi air payau menjadi air tawar.
Yang terbaru adalah produk untuk menghilangkan bau (antibau) pada helm. Produk ini juga dapat digunakan untuk menghilangkan bau pada sepatu kulit/sintetis yang tidak boleh dicuci, kaos kaki, topi, peci, kasur, bantal, sofa, jok mobil, karpet dan objek lainnya. Selain itu produk ini juga memberikan wangi segar.
Penelitian yang sudah dibangun sejak 2007 silam itu memanfaatkan nanoteknologi. Nanoteknologi sendiri merupakan bidang kajian ilmu dan rekayasa material dalam ukuran di bawah 100 nanometer. Hampir sama dengan sekitar 50.000 kali lebih kecil dibanding garis tengah rambut manusia.
“Berdasarkan penelitian, material yang ukurannya diperkecil ke ranah nanometer akan mengalami perubahan sifat sangat signifikan baik dalam fisika, kimia, mekanik dan elektriknya. Saat ini berbagai macam aplikasi nanoteknologi telah berkembang. Mulai bidang elektronik, kedokteran, farmasi, konstruksi, industri, makanan, tekstil dan keramik,” ungkap suami Harini Susianingrum itu.
Memanfaatkan material Carbon Nanotubes (CNT) dan Nanosilver, fisikawan itu pun menemukan beberapa produk-produk yang lebih efisien. Seperti produk penghilang bau, alat mendegradasi limbah dan desilinasi air payau. Pada prinsipnya bakteri, virus dan jamur tidak akan dapat melewati material yang ukuran partikelnya lebih kecil.
Aplikasi itu diterapkan pada pengembangan anti peluru yang ringan namun kuat. Material komposit berbasis carbon nanotubes yang partikel yang kecil membuat luasan semakin rapat kuat dan sensitif. Berbeda bila partikel penyusunnya berukuran lebih besar, kekuatannya akan berkurang.
Dari beberapa tes uji yang telah dilakukan, rompi yang dikembangkannya telah lolos uji tembak hingga level-2. Saat ini masih terus dikembangkan hingga nantinya dapat lolos uji tembak level-3. Teknologi yang tengah dikembangkannya juga dapat sebagai antiradar.
Sumber: SuaraMerdeka