Posted by & filed under Berita Terkini.

fsm.undip.ac.id- Jaringan
Fakultas Sains dan Matematika se-Indonesia (MIPAnet) sepakat akan membuka
program studi strategis seperti tambang dan perminyakan mulai 2016. Kesepakatan
tersebut sudah memperoleh dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sekjen
MIPAnet ke-VI Dr Muhammad Nur DEA mengatakan, sumber daya alam khususnya energi
fosil (tambang) justru banyak dikelola dan dikuasai perusahaan asing.
Keprihatinan tersebut mendorong pengembangan ilmu sains dasar ke arah program
studi terapan strategis.

“Lulusan
pertambangan dan perminyakan sangat langka, karena hanya ITB, UGM dan UPN yang
memiliki fakultas di bidang itu. Bayangkan saja, jika masing-masing perguruan
tinggi menampung 100 mahasiswa maka lulusan bidang itu hanya 300 orang tiap
tahunnya,” kata Nur saat konferensi pers rapat koordinasi MIPAnet, di
Gedung ITC Undip Tembalang.

Dekan
Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip ini mengungkapkan, kebutuhan energi
berdasar skenario Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia
(MP3EI) pada 2030 bakal melonjak tajam. Untuk menyiapkan itu, MIPAnet
menyiapkan pengembangan SDM terutama pada sektor hulu yakni sains dan
teknologi.

Kelemahan
mereka saat ini justru tidak percaya diri bahwa ilmu sains dasar ini sangat
berharga. Adapun pertemuan MIPAnet yang berlangsung 23-24 Januari di Undip ini
untuk menyiapkan tenaga pengajar pada bidang-bidang eksploitasi sumber daya
alam.

“Misalkan
(perguruan tinggi) Kalimantan dan Riau tidak punya teknik perminyakan, padahal
sumber minyak ada di sana. Untuk itu, prodi-prodi strategis ini diharapkan bisa
dibuka di luar Jawa mulai 2016,” imbuhnya.

Menurutnya,
mencari dosen teknik perminyakan dan pertambangan sangat sulit. Sebab, lulusan
S1 di kedua bidang itu sudah laris dipesan perusahaan. Karena itu, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan membuka peluang beasiswa bagi lulusan S1 sains dasar
ataupun teknik untuk melanjutkan studi ke S2.

Proses
studi penerima beasiswa pascasarjana tersebut dimulai tahun ini dan diharapkan
mereka bisa mengajar pada 2016. Sehingga pada 2020 bisa dihasilkan lulusan
pertama di bidang  pertambangan dan perminyakan.

sumber: http://m.suaramerdeka.com