Posted by & filed under Berita Terkini.

fsm.undip.ac.id- Sejumlah jurusan atau program studi di perguruan tinggi kekurangan dosen. Hal
ini disebabkan lulusan program studi tersebut langsung diserap perusahaan asing
dengan tawaran gaji tinggi.

Program
studi yang kekurangan dosen terutama yang berkaitan dengan eksplorasi dan
eksploitasi sumber daya alam, seperti perminyakan, pertambangan, geologi,
geofisika, dan program studi perkapalan.

Persoalan
tersebut terungkap dalam pertemuan Jaringan Kerjasama Nasional Lembaga
Pendidikan Bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPANet) yang
berlangsung di Universitas Diponegoro, Semarang, Rabu (23/1).

Koordinator
Beasiswa Pra S-2 dan S-2 Sains-Teknologi Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Lilik Hendrajaya mengatakan, untuk menjadi dosen minimal harus
berpendidikan S-2. “Padahal, dengan berbekal pendidikan S-1 saja, banyak
perusahaan asing yang berniat menerimanya,” kata Lilik.

Sekjen
MIPANet Muhammad Nur mengatakan, lulusan program studi strategis banyak memilih
bekerja di luar negeri.

Karena
jumlah dosen untuk program studi tersebut kurang, daya tampungnya juga
dikurangi. Akibatnya, jumlah mahasiswa dan lulusannya pun tak terlalu banyak.

Untuk
mengatasai persoalan tesrebut, kata Lilik Hendrajaya, Kemdikbud akan
memperbanyak dan membuka program studi strategis tersebut disejumlah perguruan
tinggi. langkah pertama dengan mencetak dosen yang berasal dari lulusan sains
dasar untuk kuliah S-2 dan S-3 bidang ilmu yang terkait eksplorasi dan
eksploitasi sumberdaya alam.


Beasiswa kami sediakan, dan setelah lulus kami rekrut menjadi dosen di sejumlah
perguruan tinggi,” kata Lilik

Sesuai Koridor MP3EI

Lilik
menjelaskan, pembentukan program studi strategis disesuaikan dengan koridor
ekonomi Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan  Ekonomi Indonesia (MP3EI) berdasarkan potensi
sumber daya alam di setiap daerah. Misalnya, untuk wilayah sumatera, program
studi yang dibutuhkan antara lain, bidang pertambangan, perminyakan dan gas
bumi, panas bumi, pengolahan mineral dan gas, energy listrik, metalurgi serta
konstruksi. Selain itu, teknik konvensional, konektivitas (jalan raya, kereta api,
otomotif, kelautan, dan perkapalan), teknologi pengolahan karet, sawit, hasil
agro, serta sains dasar.

Untuk
Sulawesi, program studi strategis yang dibutuhkan antara lain, bidang pertambangan,
pengolahan mineral dan metalurgi, panas bumi, pengolahan kakao, sawit, hasil
agro, kelautan, dan perkapalan.

Sekretaris
Jendral MIPANet Muhammad Nur mengatakan, dengan 1.200 beasiswa S-2, diharapkan
program studi strategis bias segera dibuka di sejumlah daerah. Kemudian, tahun
2020 sudah ada lulusan pertama program studi strategis yang baru dibuka
tersebut.

Pertemuan
MIPANet dihadiri para dekan sejumlah program studi. (SON).

sumber : kompas
25/1/13