Posted by & filed under Berita Terkini.

“Kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas.” Itulah kalimat penyemangat dari Kang Yana, instrukur Supercamp 2013. Supercamp ialah kemah super , kemah luar biasa, dan pelatihan kepemimpinan yang diadakan BEM FSM Undip 2013 pada hari Jumat- Minggu tanggal 7-9 Juni di Ngelimut, Gonoharjo, Kendal. Kegiatan ini diadakan sesuai proker PSDM BEM, yang dikomandani oleh Risky Haerul Imam(Kimia 2011). Dengan belasan panitia kegiatan yang dipimpin oleh Habibie (Informatika 2012) ini terlaksana, namun hanya enam panitia yang bergerak di lapangan, karena beberapa panitia lainnya menjadi peserta Supercamp ini. Keenam panitia itu ialah Andhica Surya Anggara(Informatika 2010), Isna Rizkia Rahma(Matematika 2010), Mufri (Kimia 2011), Risky(Kimia 2011), Istajib Sulton Hakim(Fisika 2011), dan Siti Anisah(Kimia 2011). OASE Indonesia dipilih menjadi instruktur/ trainer dalam kegiatan ini. Tema yang diangkat pada Supercamp kali ini “Together We Can Together We Learn, Together We Can Be a Great Leader”, yang juga digunakan sebagai jargon.

 

Perjuangan dan Pengorbanan untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan

Sebelum hari H peserta dibagi menjadi delapan kelompok. Peserta mendapat tugas individu dan tugas kelompok. Technical meeting dilaksanakan pada hari Rabu. Lima puluh tujuh mahasiswa FSM Undip dilatih mental, fisik, dan pikirannya dalam kegiatan ini. Pemberangkatan ke Ngelimut dibagi menjadi tiga kloter yakni pada Jumat siang, sore, dan malam. Sesampainya di Ngelimut, mereka membuat tenda. Peserta yang datang malam tidak membuat tenda, namun mereka dikenai hukuman push up. Sekitar jam 21.00 peserta mendapat suguhan materi dari mas Ikhsan, Mantan Senat FT. Beliau memberi materi tentang Hakikat Perencanaan Organisasi. Selain materi, beliau juga mengisi dengan simulasi untuk membuat visi, misi, rencana strategis, dan rencana operasional. Malam semakin larut dan membuat peserta mengantuk, peserta dipersilakan tidur.

Beberapa peserta sudah bersiap siaga kalau kegiatan dimulai pada dini hari, namun dugaan itu meleset. Sekitar jam 6.00 sang instruktur(Kang Yana) menuiupkan peluit, pertanda beliau memanggil untuk berkumpul. Peserta bergegas ke sumber suara, meski beberapa peserta ada yang berjalan saja. Pada saat itu ada cek kelengkapan, namun ada beberapa yang belum menerapkan aturan. Peserta yang tidak membawa sepatu bergegas meminjam sepatu kawan yang lain atau panitia. Selain cek kelengkapan, Kang Yana juga mengecek kebersihan diri. Yang belum gosok gigi dan mandi maka ia mendapat hukuman push up. Pemanasan-pemanasan fisik itu pun dilakukan, yakni dengan rol depan, merangkak, dan lempar tangkap bola. Peserta putra diwajibkan melakukan itu. Peserta putri hanya lempar tangkap bola. Peserta yang menyalahi aturan maka akan mendapat hukuman. Kang Yana mengajarkan kedisiplinan yang disisipkan pada permainan-permainan ini.

Setelah itu, peserta dipersilakan membubarkan diri, namun tak lama kemudian peluit dibunyikan dan peserta berkumpul di Gazebo untuk mendengarkan materi dari Presiden BEM Se-Indonesia yakni mas Yanuar Rizki Pahlevi(Teknik Fisika UGM 2009) . Beliau menjelaskan tentang Manajemen Organisasi. Beliau lebih banyak menjelaskan langsung ke aplikasi atau contoh-contoh Manajemen Organisasi termasuk Manajemen Konfliknya. Hari kedua ini merupakan hari materi, jadi peserta lebih banyak diberi materi daripada game. Materi selanjutnya ialah Komunikasi dan Networking yang disampaikan oleh mas Muhammad Fatih Askarillah(Teknik Kimia 2009). Materi dari beliau sungguh komprehensif sehingga ada beberapa materi yang ingin ditanyakan, namun urung ditanyakan karena sudah terjawab dalam penjelasan beliau. Beliau menjelaskan dari pengertian networking, motif networking, keuntungan networking, cara membangun networking, maintenance networking, kunci networking, dan gaya komunikasi, elemen networking. Materi selanjutnya ialah dari mbak Dwi Nur R. (PSIK 2009) sekarang masih diamanahi sebagai Sekretaris I Senat Mahasiswa KM Undip. Beliau menjelaskan tentang Manajemen Kesekretariatan. Materi Kesekretariatan tidak hanya perlu untuk sekretaris saja namun juga ketua dan yang lainnya. Karena terkait dengan pergarsipan dokumen, yang mana dokumen itu sebagai alat komunikasi dengan generasi selanjutnya. 

Peserta dikumpulkan di luar dan ada sesuatu dari Kang Yana, yakni peserta diminta untuk merangkak di atas tanah. Setelah putra melakukan itu, maka putri juga melakukannya. Selanjutnya ialah peserta diminta untuk mencari makanan berupa belalang dan tanaman untuk dimakan, itulah contoh survival. Kegiatan selanjutnya ialahbersih diri sebentar dan dilanjutnya materi. Materi selanjutnya ialah dari mas Joni Firmansyah, FISIP 2009, beliau merupakan Mentri Sosial Politik BEM KM Undip. Beliau menjelaskan mengenai Teknik Lobby dan Negosiasi. Beliau semangat sekali dalam menjelaskan. Dengan slide yang padat beliau mengurai benang materi itu cerita-cerita yang lucu. Ada beberapa sepatu yang taka da lagi, setelah hari pertama pun begitu. Kang Yana menyuruh mereka untuk mencari sepatu-sepatu itu bersama-sama, karena mereka tim. Bukan dengan mencari sendiri-sendiri dan tak berarah. Dan perlahan sepatu-sepatu dan sandal itu pun ditemukan. Sepatu itu sengaja dibuang karena peserta tidak meletakkan sepatu dengan rapi di tenda atau di saat materi berlangsung. Sebuah hikmah yang bisa diambil ialah hargailah dan jagalah sepatu yang mungkin harganya tak seberapa itu, karna dia nyawa kita di medan seperti itu. Serta disiplinlah dalam meletakkan sepatu, bermakna letakkan sesuatu pada tempatnya.

Setelah mas Jofi, materinya ialah dari mas Reza Auliarahman(Biologi 2008). Presiden BEM KM Undip 2012 mengajak peserta berdiskusi mengenai Undip dan kelembagaan di Undip. “Wiyata Hangreksa Gapuraning Negara (Lembaga yang menjaga martabat dan kehormatan bangsa)” juga beliau sisipkan dalam materi itu. Kalimat itu ialah moto Undip, sebuah kalimat semangat Undip. Dan materi penutup ialah dari Kang Yana. Beliau menjelaskan mengenai Success Mastery. Beliau menjelaskan bagaimana cara-cara untuk suskes. Materi diberikan hingga sekitar jam 23.00. setelah itu peserta diizinkan istirahat.

Sekitar jam tiga pagi bak dentuman bom mengoncang alam mimpi peserta camp, letusan kembang api dan petasan membangunkan tidur mereka. Tak hanya dikagetkan dengan letusan itu, namun tiba-tiba beberapa tenda ambruk. Tak salah lagi itu ialah ulah panitia atas instruksi dari trainer. Peluit pun memanggil mereka, di dingingnnya pagi itu peserta dikumpulkan untuk dijelaskan apa makna dari dibangunkannya mereka dari tidur mereka. Kang Yana menjelaskan bahwa jam 2-3 dini hari merupakan waktu rawan, para pencuri/ perampok biasanya bergerak pada jam-jam itu. Beberapa peserta menggigil dan ada yang batuk juga. Setelah itu, peserta dipersilakan untuk bersih diri dan sholat subuh.

Setelah bersih diri dan siap, ternyata peluit tak memanggil-manggil mereka. Baru sekitar jam 6.00 peluit memanggil mereka. Pemanasan pun dilakukan, dari kepala hingga kaki. Peserta yang tidak sesuai akan dikenai hukuman atau anggota badannya dipaksakan untuk sesuai. Setelah itu ada outbond dari tim OASE Indonesia. Game-game pertama ialah dari Mas Sidig Wardoyo, yakni game berkelompok-berkelompok sesuai yang beliau sebutkan berapa jumlahnya. Yang tidak sesuai maka dikenai hukuman dengan coreng muka dengan pasta gigi. Selain itu ada game bertarung dengan musuh lain yakni tiap kelompok ada empat orang, orang pertama berkata “siap, orang kedua berkata “bidik”, orang ketiga berkata “tembak”, orang keempat berkata “dor”, keempat orang itu tidak hanya melafalkan namun ada gerakkan juga. Perlahan tim putra berguguran dan tersisalah kelompok sebelasa dan enam. Setelah itu putra dibagi menjadi dua begitupun putri. Game selanjutnya ialah ring stick untuk dua kelompok putra dan menyalurkan bola dengan posisi duduk kemudian digoalkan untuk dua kelompok putri. Setelah itu gantiaan antara putra dan putri. Dan game selanjutnya ialah memecahkan plastic berisi tepung dan air dengan posisi seluruh anggota tim tidur kecuali satu orang. Anggota tim yang banyak itu menyalurkan satu orang anggota tim untuk memecahkan tepung dan air. Mereka menyalurkan dengan tangan yang diangkat di atas dada. Posisi badan tidur zig zag kepala bertemu, bertemu antara pundak satu dengan pundak yang lain. Nama game ini ialah Vertical Limit. Pada saat game ini peserta dipandu oleh mas Lilik.

Selanjutnya tibalah saatnya untuk Hiking dan Susur Sungai(Down River Tracking). Mereka berbaris dan menyusuri jalan sempit bersama dengan bentuk memanjang. Di samping kiri mereka jurang dan di samping kanan mereka tanah yang rimbun tanamannya atau sebaliknya. Tiba-tiba air turun dari langit, hujan menyapa para peserta dan instruktur. Hujan itu tak mengurungkan niat mereka, mereka tetap berjalan, sesekali mereka berhenti untuk beristirahat atau menunggu peserta lain agar tidak terputus barisannya. Mereka berjalan ditemani hujan hingga tujuan pertama tercapai yakni air terjun Gonoharjo. Di air terjun itu mereka makan siang, bercengkrama dengan air yang jatuh, dan berfoto-foto. Setelah cukup puas mereka melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah mereka di sungai, dan saatnya ialah Down River Tracking. Sebelum mereka menyusuri sungai, sang instruktur mengarahkan bagaimana seharusnya mereka berjalan di air sungai itu. Mereka harus memperkirakan apakah yang dipijak benar-benar kuat atau bisa membuat terpeleset, setelah yakin maka mereka bisa menampak kuat. Setelah itu, satu per satu peserta dipersilakan menuruni sungai itu dengan bantuan tali dan istruktur tentunya. Setelah turun, mereka menyusuri sungai, mereka harus turun tebing sungai dengan tali lagi begitu seterusnya hingga track-track sungai itu berhasil mereka lalui. Karena hari sudah sore maka perjalanan ke air panas tidak jadi. Setelah itu mereka menuju bumi perkemahan.

Mereka berbaris untuk penutupan. Sebelum menutup acara Kang Yana menyampaikan pesan-pesan. Bahwa peserta tidak boleh sombong, harus rendah hati, ikhlas, totalitas dalam bertindak, dan pesan-posan moral lainnya. Tidak hanya itu, Kang Yana juga menyampaikan agar antara putra dan putri menjaga jarak (dalam pergaulan), hal ini tercermin dari baris berbaris yang beliau terapkan. Ada jarak yang cukup antara putra dan putri. Selain pesan-pesan itu, beliau juga memandu peserta untuk berikrar Janji Alumni Supercamp. Mas Dhica juga dipersilakan menyampaikan beberapa pesan, testimoni dari beberapa peserta, dan selanjutnya penutupan pun usai. Peserta bersih diri, sholat, dan pulang.

Banyak hikmah yang dipetik peserta pada camp ini, yakni arti tentang perjuangan, pengorbanan, kebersamaan, kerja sama, kerja cerdas, kesabaran, berjalan dalam proses, dan lain sebagainya yang dikemas apik dalam serangkaian kegiatan ini.

Sumber : Masdhiana Sukmawarni (link blog: http://asysya.blogspot.com)