Posted by & filed under Berita Terkini.

fsm.undip.ac.id, Setelah tahapan demi tahapan dilaksanakan, sampailah Indonesia ICT Award (INAICTA) 2013 pada gelaran acara puncak yang berlangsung selama dua hari di Assembly hall dan lower lobby Jakarta Convention Center, Senayan. Lebih dari seratus karya ICT terpilih dari para nominator  dipamerkan kepada publik dan sederet nama pakar industri ICT mengisi conference serta workshop pada 31 Agustus – 1 September 2013.

DSC_0217

DSC_0186

Pembukaan rangkaian acara puncak INAICTA 2013 diresmikan secara langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring dihadapan para nominator dan komunitas ICT yang hadir. Melalui tema yang diangkat tahun ini “A Nation of Possibilities” diharapkan bahwa Indonesia bisa memaksimalkan potensi yang ada khususnya di Industri ICT. “Indonesia memiliki potensi yang besar, yang mulai dipertimbangkan oleh masyarakat internasional. Salah satunya adalah dengan terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan industri TIK internasional, Internet Government Forum,” jelas Tifatul.

DSC_0258

Sebagai upaya memaksimalkan potensi tersebut, rangkaian dua hari acara puncak INAICTA menyoroti trend dan potensi perkembangan industri digital, aplikasi, dan games melalui konferensi, workshop, dan eksibisi. 168 karya para nominator INAICTA 2013 dan karya komunitas games dan robot terpilih dipamerkan. Sebanyak 15 nama praktisi industri teknologi dari berbagai bidang mengisi rangkaian konferensi dan workshop.

Universitas Diponegoro ikut bagian dalam acara bergengsi ini, mereka adalah Muhammad Izzudin Shofar, Munarso, dan Haves Vazirani Al Kautsar mahasiswa Fisika, Fakultas Sains dan Matematika. Karya yang mereka presentasikan adalah RoboQuadcopter Pemantau daerah rawan bencana. “RoboQuadcopter Pemantau daerah rawan bencana merupakan alat berupa pesawat dengan empat baling-baling yang bisa terbang secara fleksibel, karena tidak memerlukan landasan yang besar dan digunakan untuk memantau daerah bencana” Kata Izzudin. Quadcopter ini bisa mengirimkan video dari kamera yang terpasang. Kamera ini yang digunakan untuk memantau kawasan bencana saat quadcopter terbang di daerah tersebut.  Selain kamera, Quadcopter ini dilengkapi dengan dua sensor, yaitu sensor suhu dan sensor gas (saat ini terpasang gas CO2). Data dari kedua sensor ini akan dikirim melalui radio yang berada di Quadcopter tersebut ke komputer penerima.

“Ide ini berawal dari permasalahan di tempat tinggal saya (Dieng-Banjarnegara) ada sumber gas beracun yang sangat berbahaya. Dan kebetulan saya tertarik dengan dunia aeromodelling (pesawat mainan). Oleh karena itu saya mencoba memberikan solusi permasalahan tersebut dengan RoboQuadcopter ini” tambahnya.