Posted by & filed under Sains dan Teknologi.

2013.09.27. mipa netPengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mutlak diperlukan oleh suatu bangsa jika ingin maju dan bertahan di tengah persaingan global. Capaian pengembangan iptek inilah yang sering menjadi tolok ukur posisi sebuah bangsa di antara bangsa-bangsa lainnya. Untuk mengejar hal tersebut, tentunya diperlukan keseriusan dalam merevitalisasi ilmu sains dasar, seperti matematika, kimia, dan biologi. Sebab tak dapat dipungkiri, ketiga disiplin ilmu ini merupakan dasar bagi pengembangan iptek yang lebih maju.

Seperti diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal MIPAnet, Dr. Muh. Nur, DEA di sela pembukaan “Lokakarya Kurikulum Standar Nasional Bidang Sains Dasar” yang digelar di Gedung Perpustakaan Moh. Hatta, kampus terpadu UII pada Jum’at (27/9/2013). Acara ini diikuti oleh para dekan Fakultas MIPA dan kaprodi MIPA dari berbagai universitas di Indonesia. Turut hadir pula Rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec dan Dekan FMIPA UII, Yandi Syukri, M.Si, Apt.

Dr. Muh. Nuh mengatakan MIPAnet merupakan organisasi jaringan kerjasama nasional bidang pendidikan tinggi FMIPA yang beranggotakan perwakilan universitas dari berbagai daerah di Indonesia. “Semoga melalui lokakarya ini kita dapat memutuskan beberapa patokan berdasarkan learning outcome sesuai dengan Kurikulum Standar Nasional Bidang Sains Dasar yang telah digodok oleh pemerintah melalui Dirjend DIKTI”, ungkapnya. Ia juga memberikan apresiasinya kepada UII khususnya FMIPA UII atas kontribusi dan peran aktifnya dalam pengembangan forum ilmiah di MIPAnet.

Menurutnya, bidang sains dasar perlu mendapat perhatian mengingat nilai strategisnya bagi pengembangan iptek sebuah bangsa. “Bidang sains dasar jika dikembangkan dengan serius mempunyai potensi berkontribusi besar dalam riset efisiensi pengolahan sumber daya kita yang melimpah”, katanya.

Sementara itu, Rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec yang berkesempatan membuka acara ini menekankan pentingnya akreditasi institusi dan akreditasi prodi bagi sebuah perguruan tinggi. “Akreditasi ini sebuah keniscayaan yang harus kita perjuangkan karena menyangkut tanggung jawab dan kredibilitas pendidikan yang kita berikan kepada masyarakat”, tandasnya.

Prof. Edy menganalogikan, seandainya belum ada kewajiban akreditasi dari pemerintah maka setiap perguruan tinggi pun seharusnya tetap melakukan hal itu sebab penting demi komitmen meningkatkan kemajuan pendidikan bangsa. “Selain aspek substansif, perlu juga saudara perhatikan aspek administratif yang justru sering terabaikan padahal juga berperan penting dalam proses akreditasi”, pintanya.

sumber: http://mipanet.com/