Posted by & filed under Berita Terkini, Sains dan Teknologi.

JTG 1_0

Dosen tamu dari International Atomic Energi Agency (IAEA) Austria, Prof Ronald Szymzack memaparkan pentingnya teknologi nuklir untuk kehidupan manusia.

SEMARANG– Pandangan masyarakat tentang nuklir yang selalu mematikan dan menyeramkan ternyata keliru. Mengingat teknologi nuklir dipastikan memberikan manfaat bagi berbagai aspek kehidupan, dari mulai kesehatan, pertanian, energi hingga lingkungan.

Hal itu terungkap dalam Stadium General on Nuclear & Technology yang digelar oleh Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip), kemarin. Kegiatan yang diadakan dalam rangka Dies Natalis ke-25 atau Lustrum V FSM Undip tersebut mendatangkan dosen tamu dari International Atomic Energi Agency (IAEA) Austria, Prof Ronald Szymzack.

Bahkan Prof Ronald Szymzack, yang memaparkan tentang dampak dari kecelakaan Pembangkit Tenaga Nuklir Fukushima di Jepang memastikan bahwa kejadian Fukushima tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan di perairan Asia Pasific. “Kecelakaan Fukushima tidak berdampak pada radiologi di perairan Asia Pasific,” ujarnya di hadapan dosen dan mahasiswa yang hadir. Atas kejadian Fukushima di Jepang tersebut, sampai sekarang tidak satu pun orang meninggal.

Kalaupun ada korban, rata-rata mengalami luka seperti luka bakar dan luka lainnya. Deputi Bidang Penelitian Dasar dan Terapan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan menuturkan, tenaga nuklir bisa memberikan manfaat terhadap lingkungan sekitar. Berbagai kegiatan BATAN sudah membuktikan bahwa tenaga nuklir bias dimanfaatkan untuk berbagai sektor seperti kesehatan, pertanian, energi, hingga lingkungan. “Iptek nuklir itu juga baik, jadi tidak selalu negatif,” ujarnya.

Anhar mencontohkan di bidang kesehatan, nuklir bisa digunakan untuk radio therapy bagi penyakit kanker. Begitu juga di pertanian, nuklir juga bisa mengubah DNA bibit padi menjadi bibit yang unggul. Yang sekarang sudah bermitra dengan banyak pemda adalah pemanfaatannya dalam kegiatan pemantauan polusi udara. “Kita bekerja sama dengan KLH (Kementrian Lingkungan Hidup), alat kita sudah dipakai untuk memantau polusi udara di suatu daerah,” ungkapnya.

Tercatat, hingga kini sudah ada 15 kota yang menjadi titip pantau polusi udara, di antaranya Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Tangerang, Pekanbaru, Denpasar, Lombok, Ambon, Jayapura, Makasar,, dan kota lainnya. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat akan bahaya radiasi, BATAN mulai melakukan pemetaan radiasi dan radioaktivitas.

“Berdasarkan pemetaan kita daerah yang radiasinya paling tinggi ada di Mamuju Sulawesi Barat. Tingkat radiasi ini dipengaruhi oleh struktur geologi masing-masing daerah,” ucapnya. Sementara itu, Dekan FSM Undip, Muhammad Nur mengatakan, teknologi nuklir menjadi salah satu teknologi yang menarik untuk terus dilakukan pengkajian.

Mengingat banyak masyarakat yang masih awam tentang nuklir. Sehingga pihaknya berharap kegiatan ini semakin menambah wawasan bagi dosen maupun mahasiswa. “Ini persoalan penting yang harus diketahui, mengingat tidak banyak yang mengadakan diskusi soal nuklir,” tambahnya.

 

Sumber dari Koran Sindo.