Posted by & filed under Berita Terkini, Sains dan Teknologi.

P1040050

Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada masalah sulit yang menyangkut hajat hidup orang banyak berupa kebutuhan akan energi listrik. Pertumbuhan manusia yang semakin meningkat menyebabkan permintaan energi listrik semakin besar sedangkan pasokan sumber energi listrik semakin menipis. Krisis energi telah memicu pengembangan sumber energi alternatif terbarukan (renewable) untuk mensubstitusi pengguanaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber energi utama bagi masyarakat.

Pertamina merupakan salah satu BUMN terbesar di bidang energi dan petrokimia yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Status ini membuat Pertamina memiliki tanggung jawab besar ikut berkontribusi bagi pembangunan bangsa Indonesia. Tanggung jawab dan komitmen Pertamina pada pembangunan bangsa salah satunya diwujudkan dalam bentuk kepedulian perusahaan dalam memajukan bidang pendidikan di perguruan tinggi khususnya dalam mencetak generasi muda yang unggul yang dapat menjadi pembangun kemandirin bangsa. Dengan mengusung tema “Inovasi Sobat Bumi, Prestasi Untuk Negeri”. Mengusung dua cabang yang berbeda yaitu bidang teori dan bidang projeck sains, bidang teori terdiri atas bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Sedangkan untuk science projeck dibagi menjadi 3 yakni kategori Produk Unggulan, Aplikasi Perangkat Lunak, dan Rancang Bangun. Serangkaian acara dimulai tanggal 27 November 2013 untuk babak final dilaksanakan di Jakarta.

3 mahasiswa Universitas Diponegoro yakni Mei Viantikasari (Kimia), Muhammad Amal Nurhakim (Biologi), dan Istajib Sulton Hakim (Fisika) dengan karya mereka yang berjudul E-MOSI : ENERGI LISTRIK DARI MOLASES DAN SAMPAH ORGANIK MENGGUNAKAN MICROBIAL FUEL CELL DENGAN BIOAKTIVATOR Saccharomyces cerevisiae, Pseudomonas fluorescens. dan Streptomyces spp berhasil membawa mereka menjadi juara 3 dalam Science projeck kategori Produk Unggulan.

Penelitian ini memanfaatkan mikroba untuk menghasilkan energi listrik menjadi upaya yang ditempuh dan dilakukan oleh para peneliti dalam beberapa tahun ini. Sistem yang digunakan adalah teknologi Microbial Fuel Cells (MFC) yang merubah penyimpanan energi kimia dalam bentuk campuran organik menjadi energi listrik yang terus menembus reaksi katalis oleh mikroorganisme telah menghasilkan energi listrik. Bakteri bisa digunakan dalam sistem MFC untuk menghasilkan energi listrik sambil menyelesaikan proses penghancuran dari material organik.

Sumber glukosa dapat diambil dari sampah organik yang sangat banyak ditemukan dilingkungan sekitar. Sampah organik yang mengandung sejumlah besar karbohidrat, dan protein, dapat menimbulkan masalah lingkungan karena menimbulkan bau yang tidak sedap serta merupakan polusi berat pada perairan bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat. Namun dengan bahan-bahan organik dari sampah tersebut, sampah tersebut dapat dimanfaatkan dalam sistem MFC sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan mikroba. Sedangkan pada penelitian ini mikroba yang berfungsi sebagai bioaktivator adalah Sacharomyces Cerevisiae, Pseudomonas fluorescens. dan Streptomyces spp.

Acara ini juga dihadiri oleh wakil mentri pendidikan dan kebudayaan bagian pendidikan yakni Prof.Dr.Ir.H. Musliar Kasim MS, dan dihadiri oleh para pejabat tinggi Pertamina Pusat, sekaligus penganugerahandilaksanakan di gedung Pertamina Pusat di Jakarta.

Rencananya proyek ini juga akan diteruskan dan juga akan di presentasikan di Hokkaido karena telah lolos 50 besar abstrak terbaik, acara itu akan dilaksanakan pada bulan Februari mendatang.