Posted by & filed under Berita Terkini, Sains dan Teknologi.

Tugas dosen tak melulu datang ke kampus dan mengajar mahasiswa di  ruang kuliah. Mereka sesuai prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi (PT) dituntut menghasilkan karya ilmiah berkelas. Penciptaan karya tak sekadar mengharumkan nama almamater tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat.

DOSEN Undip Muhmamad Nur adalah satu dari sekian dosen yang terus aktif menekuni penelitian sepanjang karir mengajar. Meski, pernah menjabat sebagai pembantu rektor (PR) IV Undip dan sekarang merupakan Dekan Fakultas Sain dan Matematika (FSM), intuisi peraih gelar doktor dari Perancis ini nyaris tak pernah padam menciptakan terobosan di bidang ilmu pengetahuan.

Nur belakangan bersama koleganya disibukkan dengan penelitian lintas disiplin di Laboratorium FSM Undip.  Mereka tanpa kenal lelah berkutat dengan rumus-rumus, mengujicobakan formula, hingga bongkar pasang alat-alat laborotarium. ”Kami bertujuan mendapat temuan terbaru tentang rekayasa teknologi plasma. Teknologi ini penting salah satunya menciptakan keawetan pangan tanpa campuran bahan kimiawi,” tutur dia dalam paparan hasil penelitian di hadapan awak media, Kamis (5/12).

Bergelut dalam penelitian, dia melibatkan banyak periset dari Undip. Mereka adalah pakar di bidangnya yakni Dr Endang Kusdiyantini  DEA (Ahli Mikrobiologi, FSM), Dr Tri A Winarni, MSc (Ahli Teknologi Pangan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), Dr Susilo Adi Widiyanto MT (Ahli Mekatronika, Fakultas Teknik), dan Dr Hajum Muharram MSi (Ahli Manajemen, Fakultas Ekonomika Bisnis).

Berlelah-lelah selama beberapa lama ketekunan itu membuahkan terobosan. Teknologi plasma terbukti bermanfaat mengawetkan bahan pangan terutama beras. Tim prinsipnya berhasil mengubah plasma menghasilkan ozon. Ini sangat diperlukan dalam menjaga ketahanan kualitas beras. Penelitian yang didanai dengan skema Program Penelitian Unggulan Strategis Nasional, sekaligus menelurkan alat bernama Sistem Penyimpanan Beras Teknologi Ozon (SPBTO).

Cegah Bakteri

Muhammad Nur menambahkan, kecepatan penurunan kualitas beras disebabkan mulai dari kelembaban tinggi,  munculnya bakteri, tumbuhnya jamur, hingga diikuti lahirnya banyak kutu. Kondisi ini menyebabkan  begitu banyak keluhan terhadap beras rakyat miskin (raskin) yang tak layak dikonsumsi ketika sampai ke masyarakat.

Teknologi plasma membantu membangkitkan ozon dan berfungsi menghilangkan pertumbuhan bakteri dan jamur. ”Ozon sekaligus dapat meningkatkan kadar oksigen dalam beras dan menarik uap air menjadi hidroksil yang mengakibatkan kelembaban beras berkurang. Dari 14 persen kadar air dalam beras, penelitian ini dapat menekan hingga 12 persen kadar air, bahkan bisa mencapai 11 persen,” tuturnya.

Mengenai kandungan kimiawi dalam beras, dijamin aman. Sebab, hasil penelitian ini menunjukkan kandungan kimiawi dan gizi beras mencakup karbohidrat, protein, lemak, amilosa dan amilopektin tidak berubah. Yang menarik bahkan muncul sedikit penurunan kadar amilosa. Jika diperoleh kondisi yang sesuai, teknologi ini juga memungkinkan memperoduksi beras khusus untuk penderita diabetes.

Disebutkan, badan penanggungjawab makanan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA) sekaligus menjamin keamanan penggunaan ozon melalui lisensi Generalize Recognized as Safe  (GRAS) pada 1995. Kondisi ini menjadikan secara umum ozon dinyatakan  aman untuk pemrosesan makanan  dan minuman. Pemanfaatan ozon sama sekali tidak meninggalkan residu apapun.

Proses ini juga merupakan dukungan para peneliti Undip menuju universitas riset unggulan. Diharapkan alat ini bisa membantu memperkuat keawetan beras terutama yang tersimpan dalam jumlah besar seperti di Gudang Bulog, hotel, asrama, restoran serta kapal-kapal pengangkut beras. SPBTO sangat mungkin diproduksi di Indonesia bahkan di Semarang. Sebab seluruh komponen yang digunakan dalam SPBTO dapat dirakit sendiri. (Hari Santoso-39)

Sumber : Suara Merdeka