Posted by & filed under News.

wacana

Wacana penggabungan antara Pendidikan Tinggi dengan Riset dan Teknologi dalam satu lembaga Kementrian Dikti-Ristek menjadi Topik menarik yang diangkat dalam acara Diskusi Panel dan Workshop Penguatan kepemimpinan dalam menghadapi wacana Pembentukan Kementrian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kamis, 9/10 di International Convention Hall, Gedung ICT , Kampus Undip Tembalang.

Acara ini merupakan serangkaian acara wokshop dan seminar dalam rangka Dies Natalies Undip ke 57. Ketua Panitia Penyelenggara, Dr. Muhammad Nur DEA yang juga merupakan Dekan Fakultas Sains dan Matematika ini menyampaikan bahwa, diskusi ini merupakan salah satu upaya Perguruan Tinggi dalam mengahadapi ketika wacana tersebut benar benar di laksanakan.

“Tentunya jika wacana tersebut benar benar diterapkan maka Perguruan Tinggi harus mempersiapkan diri sebagai lembaga riset untuk meningkatkan penelitian yang mampu mendorong dunia industri menjadi lebih berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga memberikan nilai tambah bagi pengembangan riset selanjutnya”, jelasnya

Diskusi yang dihadiri oleh Rektor se Jateng dan DIY, Deputi dari Kemenristek dan Kepala Jurusan dan Program Studi ini menghadirkan 4 prang Pembicara antara lain, Prof. Lukman Hakim, MSc..PhD., Apt (Ketua LIPI), Prof. Dr. H Ravik Karsidi, MS (Ketua Forum Rektor Indonesia), Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin, MSc., M.Eng (Mantan Ketua Forum Rektor Indonesia, Penulis), dan Prof.Dr. Wawan Gunawan A. Kadir, MS (Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB)

Menurut Ravik Karsidi ada beberapa argument yang terkait dengan kebutuhan pembentukan Kementrian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, antara lain Argumentasi Ekonomi, dimana para ekonom berpendapat bahwa agar indonesia tidak semakin terpuruk dan masuk dalam fenomena apa yang disebut dengan midle income trap (MIT) atau jebakan negara berpenghasilan sedang, dimana negara perlu usaha mendorong transformasi strukturalsecara serius.

“selama ini pembangunan lampat atau cenderung gagal mendorong proses transformasi struktural yakni mendorong perubahan dan percepatan sektor pertanian ke sektor industri secara masif” ujarnya.

Ravik juga menjelaskan Argumentasi lain seperti, riset untuk pengembangan industri, budaya dan peradaban, konseptual Triple- Hellix, Historis dan referensi/pengalaman negara lain. “Maka berdasarkan beberapa butir pemikiran tersebut, pendirian Kementrian Pendidikan Tinggi dan Ristek (KPTR) sangatlah penting untuk dilakukan. Lebih dari itu, sebenarnya pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek adalah juga langkah membangun akuntabilitas intelektual yang dihasilkan dari pendidikan tinggi dan kebutuhan pembangunan masyarakat” jelasnya

Sementara Wawan menyampaikan materi tentang Otonomi Perguruan Tinggi (PTNbh) dalam perkembangan riset dan Implementasi untuk daya saing bangsa mengatakan bahwa penggabungan antara Pendidikan Tinggi dengan Riset dan Teknologi dalam satu lembaga Kementrian Dikti-Ristek akan dapat berjalan baik di Indonesia jika riset tersebut didukung oleh Komitmen.

“Saat ini tidak ada komitmen yang jelas antara Peguruan Tinggi, Lembaga Riset, Industri dan pemerintah dalam menyatukan atau mensinergikan hasil riset yang ada”, jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa, kita semua wajib mengawal pemerintahan Jokowi dan JK dalam penyederhanaa lembaga riset ini.

 

Sumber : www.undip.ac.id

Comments are closed.