CPalim FSM UNDIP Perkuat Kolaborasi Global melalui Tropical Aquatic Ecosystems Summer Course 2026

Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro melalui Cluster for Paleolimnology (CPalim) sukses menyelenggarakan Tropical Aquatic Ecosystems Summer Course 2026: From Limnology to Climate Solutions. Program akademik internasional ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi global serta pembelajaran interdisipliner dalam bidang ilmu ekosistem perairan tawar.

Kegiatan yang berlangsung 24 Juli hingga 31 Juli 2026 tersebut diikuti oleh 35 peserta terdaftar dari Indonesia dan berbagai negara, antara lain Pakistan, Tanzania, Kenya, Nigeria, Mali, Mesir, Kirgizstan, Bangladesh, India, Malaysia, dan Yaman. Para peserta berasal dari beragam latar belakang akademik, meliputi biologi, perikanan, ilmu lingkungan, teknik, kesehatan masyarakat, serta bidang terkait lainnya.

Penyelenggaraan Summer Course ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Diponegoro dalam memperkuat internasionalisasi dan mewujudkan visi sebagai universitas berkelas dunia. Melalui program tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring akademik internasional, dan mengembangkan pemahaman mengenai pengelolaan ekosistem perairan tawar secara berkelanjutan.

Program ini menyoroti pentingnya ekosistem perairan tawar tropis sebagai salah satu sumber daya alam yang sangat bernilai. Di sisi lain, ekosistem tersebut menghadapi berbagai tantangan lingkungan, seperti hilangnya keanekaragaman hayati, eutrofikasi, penurunan kualitas air, sedimentasi, serta dampak perubahan iklim.

Melalui pendekatan interdisipliner, peserta mempelajari bagaimana penelitian ilmiah dapat berkontribusi dalam pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan serta mendukung pengambilan keputusan lingkungan berbasis bukti. Materi akademik disampaikan oleh para pakar nasional dan internasional yang memiliki keahlian dalam bidang limnologi, ekologi, perubahan iklim, dan pemantauan lingkungan.

Salah satu materi yang disampaikan membahas limnologi Danau Rawapening, termasuk dinamika ekologis dan berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi salah satu danau prioritas nasional tersebut. Materi mengenai jejaring global dan kolaborasi internasional disampaikan oleh Assoc. Prof. Łukasz Kruszewski dari Institute of Geological Sciences, Polish Academy of Sciences. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai peluang untuk membangun kemitraan ilmiah dan penelitian kolaboratif pada tingkat internasional.

Peserta juga memperoleh materi mengenai pengukuran cadangan karbon pada ekosistem perairan. Materi tersebut menekankan peran ekosistem perairan tawar dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuan menyimpan dan mengelola karbon.

Selain itu, materi analisis vegetasi untuk pemantauan ekosistem memperkenalkan pentingnya komunitas tumbuhan sebagai indikator kondisi ekologis. Sementara itu, materi penerapan environmental DNA atau eDNA pada ekosistem danau memperkenalkan pendekatan molekuler modern untuk memantau keanekaragaman hayati dan menilai kondisi ekosistem perairan.

Tidak hanya mengikuti pembelajaran di dalam kelas, peserta juga memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan observasi ekosistem perairan tawar di Danau Rawapening. Di bawah pendampingan para ahli, peserta mengamati keanekaragaman hayati, vegetasi perairan, plankton, diatom, serta kondisi lingkungan di kawasan danau.

Kegiatan laboratorium turut memberikan pengalaman kepada peserta dalam pengolahan sampel, teknik pemantauan lingkungan, dan penggunaan berbagai pendekatan modern dalam penelitian ekosistem perairan. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai keterkaitan antara pengamatan lapangan, analisis laboratorium, dan interpretasi data ilmiah.

Salah satu keunggulan utama program ini adalah penekanannya pada kolaborasi interdisipliner. Berbagai diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan perairan tawar tidak hanya memerlukan kontribusi ilmuwan bidang sains alam, tetapi juga membutuhkan peran insinyur, pendidik, pembuat kebijakan, pakar hukum, ekonom, dan praktisi komunikasi.

Pendekatan tersebut mendorong peserta untuk memahami bahwa setiap disiplin ilmu memiliki peran yang saling melengkapi dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Program Summer Course ditutup dengan presentasi peserta yang memadukan hasil observasi lapangan, pengalaman laboratorium, dan diskusi ilmiah menjadi rekomendasi praktis bagi konservasi ekosistem perairan tawar.

Melalui penyelenggaraan Tropical Aquatic Ecosystems Summer Course 2026, FSM Universitas Diponegoro terus memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan kolaborasi global dalam bidang ilmu ekosistem perairan. Program ini juga mencerminkan komitmen Universitas Diponegoro terhadap internasionalisasi, keunggulan akademik, serta pengembangan calon peneliti yang mampu menghadapi berbagai tantangan lingkungan global melalui pendekatan inovatif dan interdisipliner.